Diskusi Demokrasi di Sekolah, Bawaslu Lutim Ajak Pemilih Pemula Lebih Peduli pada Kualitas Demokrasi
|
Tomoni - Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Luwu Timur kembali melanjutkan agenda konsolidasi demokrasi dengan menyasar kalangan pelajar sebagai pemilih pemula. Kegiatan yang berlangsung di SMKN 2 Luwu Timur, Kamis (30/4/2026), dikemas dalam bentuk diskusi demokrasi yang menitikberatkan pada pentingnya menjadi warga negara yang baik serta memiliki kepedulian terhadap kualitas demokrasi.
Ketua Bawaslu Luwu Timur, Pawennari, menegaskan bahwa pemilu bukan sekadar momentum menggunakan hak pilih, tetapi juga ruang bagi setiap warga negara untuk menunjukkan tanggung jawab demokratisnya secara sadar, kritis, dan berintegritas.
“Menjadi warga negara yang baik dalam pemilu bukan hanya hadir memilih, tetapi bagaimana menggunakan hak tersebut secara bertanggung jawab, tidak mudah dipengaruhi politik uang, serta memahami bahwa kualitas pilihan akan menentukan kualitas demokrasi kita,” ujar Pawennari di hadapan para siswa.
Dalam diskusi tersebut, Bawaslu menekankan bahwa generasi muda, khususnya pemilih pemula, memiliki posisi strategis dalam menentukan arah demokrasi ke depan. Karena itu, pelajar perlu memahami prinsip-prinsip dasar demokrasi sejak dini, termasuk pentingnya kejujuran, kebebasan memilih, dan menghormati perbedaan pilihan politik.
Pawennari juga mengingatkan bahwa praktik politik uang merupakan ancaman serius bagi kualitas demokrasi karena dapat melahirkan kepemimpinan yang tidak berorientasi pada kepentingan publik.
“Jangan pernah menganggap politik uang sebagai sesuatu yang biasa. Ketika pilihan ditentukan oleh transaksi, maka demokrasi kehilangan substansinya,” tegasnya.
Selain menolak politik uang, para pelajar juga diajak memahami bahwa perbedaan pilihan dalam pemilu merupakan hal yang wajar dan tidak boleh menjadi alasan munculnya konflik sosial.
“Demokrasi harus melahirkan kedewasaan. Berbeda pilihan itu biasa, tetapi jangan sampai karena pilihan politik kita kehilangan persaudaraan,” lanjutnya.
Bawaslu juga menekankan pentingnya sikap kritis generasi muda dalam menyaring informasi politik, terutama di era digital ketika hoaks dan provokasi mudah tersebar melalui media sosial. Pelajar diharapkan mampu menjadi pemilih yang rasional, tidak mudah terpengaruh, dan mampu berkontribusi dalam menjaga ruang demokrasi yang sehat.
Para siswa pun didorong untuk menjadi penyambung pesan demokrasi di lingkungan keluarga dan masyarakat, termasuk menyampaikan pentingnya menolak politik uang dan menjaga kualitas pemilu.