Sulkifli Bangkitkan Semangat Penyandang Disabilitas untuk Berani Suarakan Hak dan Kebutuhannya
|
Luwu Timur, Penyandang disabilitas didorong untuk tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi berani mengambil peran dalam menyuarakan hak dan kebutuhan mereka di tengah masyarakat.
Pesan itu disampaikan Koordinator Divisi Hukum, Pencegahan, Partisipasi Masyarakat dan Humas Bawaslu Kabupaten Luwu Timur, Sulkifli, saat menjadi narasumber dalam kegiatan yang dilaksanakan Save the Children bersama Yayasan Celosia Marennu Indonesia Kabupaten Luwu Timur, di Aula Kantor Camat Mangkutana, Rabu (26/8/2026).
Kegiatan tersebut diikuti oleh penyandang disabilitas. Ketua dan Sekretaris Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kabupaten Luwu Timur turut hadir membersamai para peserta.
Dalam materi Kepemimpinan bagi Penyandang Disabilitas, Sulkifli menyampaikan bahwa kepemimpinan tidak ditentukan oleh kondisi fisik seseorang. Kepemimpinan lahir dari kemampuan untuk memengaruhi, mengajak, mengarahkan, serta memberikan contoh positif bagi orang lain untuk mencapai tujuan bersama.
Karena itu, ia mengajak penyandang disabilitas untuk berani menyuarakan hak atas akses, pekerjaan, pendidikan, serta kebutuhan terhadap lingkungan yang inklusif. Menurutnya, suara penyandang disabilitas penting untuk memastikan berbagai kebijakan dan fasilitas yang tersedia benar-benar dapat diakses dan digunakan secara setara.
“Bicara. Suarakan hak akses, pekerjaan, dan pendidikan. Jangan diam,” kata pria yang akrab disapa Songko Lotong itu.
Ia menekankan bahwa keberanian bersuara perlu diikuti dengan kemampuan menawarkan solusi. Penyandang disabilitas, kata Sulkifli, tidak cukup hanya menunjukkan persoalan yang dihadapi, tetapi juga dapat ikut memberikan gagasan mengenai langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Sulkifli juga mendorong penyandang disabilitas untuk membangun kepemimpinan dari lingkungan terdekat. Menurutnya, pengalaman menghadapi berbagai hambatan dapat menjadi kekuatan untuk menumbuhkan empati, menjadi pendengar yang baik, serta menggerakkan lingkungan agar semakin terbuka terhadap kebutuhan penyandang disabilitas.
Dalam konteks partisipasi masyarakat, keberanian menyampaikan aspirasi menjadi bagian penting dari upaya menciptakan perubahan. Penyandang disabilitas memiliki ruang untuk terlibat, menyampaikan pandangan, dan menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan mereka.
Sulkifli mengingatkan agar penyandang disabilitas tidak terjebak pada mental korban maupun mental menunggu. Ia mendorong agar setiap orang berani memulai dari hal-hal kecil dan melihat dirinya sebagai bagian dari solusi.
“Dunia tidak butuh pemimpin yang sempurna. Dunia butuh pemimpin yang berani. Berani tampil, berani bersuara, berani jadi contoh,” tegasnya.
Menurut Sulkifli, keterbatasan fisik tidak semestinya membatasi seseorang untuk memberikan pengaruh dan kontribusi. Justru, lingkungan perlu memastikan tersedianya akses yang memungkinkan setiap orang mengambil bagian secara setara.
“Kita bukan penyandang masalah, tapi kita adalah penyandang solusi. Kita bukan penyandang keterbatasan, tapi kita adalah penyandang kepemimpinan,” pungkasnya.